Selasa, 21 April 2009

Mana gaungmu UAN?

Pesta Demokrasi versus Ujian Akhir Nasional
(Mana gaungmu UAN...?)

oleh:
EA Setyawan


Pemilu legislatif tahun 2009 memang luar biasa dahsyat. Semua media mengupas tuntas setiap kejadian yang berkaitan dengan jalannya pemilu baik dari mulai tahap awal pendaftaran calon pemilih sementara (DPS) hingga rapat pleno rekapitulasi suara oleh KPU. Masyarakat dimanjakan oleh berita hangat bahkan panas seputar pemilu, sehingga jika tidak mengikuti akan ketinggalan alur beritanya. Ibarat orang kalau lihat sinetron harus mengikuti episode demi episode tanpa ketinggalan alur ceritanya. Inilah yang membuat masyarakat kecanduan, apalagi diduking oleh media yang mengemas peristiwa tersebut dari berbagai sudut pandang. Meskipun masyarakat dan elit politik menilai pemilu tahun ini adalah yang terburuk dari pemilu yang sudah - sudah tetapi para pelanggan berita tetap menyukai berita dan issue - issuenya. Banyak peristiwa yang kontroversi dan menggelitik, antara lain ada calon legislatif (caleg) yang siap menang tetapi tidak siap kalah sehingga bertingkah laku yang aneh - aneh. Ada yang caleg tersebut stress ringan, stress berat sampai ada yang rela menghabisi dirinya sendiri (bunuh diri), bahkan ada caleg yang menarik kembali barang pemberiannya dari masyarakat. Caleg yang seperti ini mungkin sudah tidak punya rasa malu, dan bisa kita bayangkan bagaimana seandainya nanti jadi caleg beneran mungkin mereka malah akan bertindak malu - maluin. Selain peristiwa itu juga ada petugas KPPS yang meninggal hanya karena kelelahan setelah menjalankan tugasnya ketika pesta demokrasi berlangsung. Berita - berita seperti inilah yang membuat bumbu penyedap pemilu yang semakin asyik untuk dinikmati.

Melihat itu semua, ternyata masyarakat kita dibuat tertidur terhadap issue yang juga tidak kalah penting untuk selalu dijadikan perhatian. Issue yang dimaksud adalah Ujian Akhir Nasional (UAN). Mengingat tahun - tahun sebelumnya, berita seputar UAN sudah memenuhi headlain suatu media massa yang notabene UAN baru akan diselenggarakan 1 minggu yang akan datang. Kalau kita masih ingat, UAN tahun lalu memuat peristiwa - peristiwa yang tak kalah panas dan gempar mulai dari persiapan UAN, bocoran kunci jawaban, "tim sukses" dari sekolah dan masih banyak lagi berita yang mengindikasikan bahwa UAN waktu itu penuh kecurangan. Maka dari itu, peranan media massa waktu itu telah mengekspos secara tajam tentang issue yang sedang terjadi. Coba kita renungkan masa sekarang, seandainya berita seputar pemilu itu telah usai mungkin media akan mengulas tuntas tentang jalannya sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) pada negara kita saat ini, utamanya saat adanya UJIAN AKHIR NASIONAL. Mungkinkah sisdiknas kita saat ini sudah berubah dari "kebiasaan" tahun - tahun yang lalu, atau hanya stagnan. Intinya mungkinkah Sisdiknas di Indonesia ini telah berjalan sehat atau malah sakit, bagus atau malah buruk, rapi atau malah bobrok. Tetapi itu semua dikembalikan pada masyarakat pada umumnya dan pelaku pendidikan pada khususnya yang juga tidak lupa didukung oleh peran aktif dari pemerintah dan media massa sebagai pengendalinya. Mudah - mudahan pendidikan kita saat ini telah mengalami banyak kemajuan dan perubahan yang positif dari segi kuantitas dan kualitas. Karena dengan pendidikan juga kita bisa mengarahkan bangsa untuk lebih maju dan dengan pendidikan juga dapat membentuk karakter bangsa dan negara yang beradab dan berideologi. Mengingat itu semua, issue pendidikan saat ini tidak kalah penting dari pesta demokrasi, sehingga perlu diangkat kepermukaan supaya masyarakat lebih tahu seperti apa wajah pendidikan kita saat ini.

Tulisan ini hanya sebatas refleksi keprihatinan terhadap dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Semoga semua unsur masyarakat mendukung jalannya pendidikan secara sehat dan maju demi kepentingan yang lebih luas yaitu masa depan negara. Dan hal ini akan lebih mengena jika pemerintah serta media massa dapat merespon positif demi kemajuan negara. Sekali lagi marilah kita tidak hanya fokus dan komit pada perpolitikan Indonesia saat ini, tetapi marilah kita cermati dan fokus juga pada dunia pendidikan Indonesia saat ini. Karena kita tahu para politikus, sistem politik dan ahli kenegaraan tidak akan maju tanpa pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar